Jam tepat menunjukkan pukul 01.15 WIB. Disaat ribuan warga Kota Lubuklinggau tengah asyik terlelap dan dibuai oleh belaian mimpi-mimpi malam pada Kamis (23/10) dini hari , puluhan pedagang yang tengah bersiap-siap membenahi dagangan mereka di Pasar Inpres Blok A Lubuklinggau menjerit histeris. Pasalnya titik api yang tidak diketahui dari mana asal kedatangannya, seolah-olah mengamuk seketika dan menelan apa saja yang sedang berada dihadapannya. Beberapa warga yang tadinya tengah tertidur sebelum teriakan para kaum hawa merajai malam disekitar lokasi tersebut, sontak terbangun dan sekonyong-konyong memaksa otaknya berkerja keras untuk secepatnya memahami kondisi yang tengah mereka hadapi saat ini. Tanpa pikir panjang dan tampang serta pakaian mereka yang masih awut-awutan, puluhan kaum laki-laki yang sejujurnya masih merindukan hangatnya belaian dewi mimpi tersebut, bergegas mencari-cari sesuatu agar dapat mengumpulkan air guna menghambat lajunya amukan sang jago merah. Peluh dan upaya keras yang dilakukan oleh para kaum lelaki tersebut tampaknya tak sebanding dengan hasil yang mereka dapati. Sang jago merah seolah tertawa terbahak-bahak memamerkan keperkasaannya.
Banyak pertanyaan yang terangkat kepermukaan dengan latar belakang musibah kebakaran ini, namun salah satu yang paling kritis adalah dimanakah peran para Fireman di Kota Lubuklinggau ini. Kita kesampingkan dulu permasalahan sebab musabab musibah, yang biasanya hanya akan menghadirkan kesimpulan klise dan umum, “akibat adanya arus pendek sehingga bla..bla..bla..“. Sebuah asumsi yang sebetulnya bisa menjadi sebuah kalimat yang bertitel pembodohan publik guna menutupi sesuatu yang jika di film-film barat disegel dengan label “SECRET”. Selanjutnya mari kita membahas pertanyaan kritis pertama tadi tentang tim pemadam kebakaran atau fireman, dimana konteks ini rasanya akan sangat diperlukan perkembangannya guna mengantisipasi kejadian-kejadian yang serupa dimasa-masa yang akan datang.
Dua kali sudah musibah kebakaran dalam rentang waktu 3 Bulan yang terjadi didalam Kota Sebiduk Semare ini dan dua kali pula sang jago merah berhasil keluar sebagai pemenang. The Fireman yang di luar sana sangat dipuja bahkan oleh pemerintah, statusnya diangkat sebagai salah satu profesi yang harus dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat, di Kota ini tampil bak sekedar pemain figuran cabutan yang kehadirannya dibutuhkan namun tak mampu menyelesaikan permasalahan utama. Musibah pertama saat terjadi di Kelurahan Megang sekitar 3 bulan yang lalu, dimana our Firemans tampil bak polisi di film-film
Kasus pun ditutup dengan label Missions Failed.
Selanjutnya musibah di pasar Inpres ini, lagi-lagi arsip file ini pun disegel dengan label Missions Failed.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah pihak pemerintah
Comments